Tinjau Rumah Guru di Dusun Mungkal, Tangis Bupati Siak Pecah
Sabtu, 03-10-2026 - 13:32:56 WIB 👁 2509
 |
| Foto : Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli saat meninjau pembangunan rumah guru di Dusun Mungkal |
SERGAPONLINE.COM SIAK – Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli tak kuasa menahan haru saat meninjau pembangunan rumah guru di Dusun Mungkal, wilayah 3T Kabupaten Siak. Matanya berkaca-kaca hingga air mata mengalir setelah melihat langsung kondisi tiga guru yang selama ini tinggal bersama keluarganya dalam satu rumah kayu.
“Astaghfirullah...” ucap Afni lirih sambil menundukkan kepala.
Rumah yang ditempati tiga keluarga tersebut menjadi gambaran kondisi tenaga pendidik yang mengabdi di pelosok Siak. Di tengah keterbatasan fasilitas dasar, para guru tetap menjalankan tugas mendidik anak-anak di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.
“Kita sama-sama tinggal di daerah yang kaya,” kata Afni dengan suara bergetar.
Menurut Afni, masih adanya guru yang tinggal dalam satu rumah bersama keluarga masing-masing menunjukkan masih terdapat pekerjaan besar yang harus diselesaikan pemerintah daerah, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di wilayah 3T.
Keterbatasan itu bukan hanya dirasakan para guru. Anak-anak sekolah di Dusun Mungkal juga belum memiliki bus sekolah. Mereka harus menempuh perjalanan hampir dua jam untuk pergi dan pulang sekolah. Sebagian bahkan harus berdesakan dan berdiri selama perjalanan.
“Ini salah kita. Kita belum bisa belikan buku sekolah,” ujar Afni.
Tangis Afni kembali pecah ketika melihat langsung kondisi tersebut. Ia mengaku selama ini banyak persoalan masyarakat pelosok hanya diterimanya melalui laporan.
“Saya baru jadi Bupati, baru satu tahun. Masih banyak rakyat kami yang masih seperti ini,” katanya, Jumat (02/10/2026) malam.
Afni dilantik sebagai Bupati Siak pada 4 Juni 2025. Sejak memimpin, Pemkab Siak menghadapi tekanan fiskal akibat keterbatasan anggaran, warisan utang serta pengurangan transfer ke daerah. Namun, kondisi tersebut, kata Afni, tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan masyarakat di wilayah 3T.
Pembangunan rumah guru di Dusun Mungkal kini mulai dilakukan melalui dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Rumah tersebut diharapkan menjadi tempat tinggal yang lebih layak bagi para guru yang telah bertahun-tahun mengabdi jauh dari pusat pemerintahan.
Bagi salah seorang guru yang telah mengabdi sekitar 10 tahun, pembangunan rumah itu menjadi kabar yang sangat berarti. “Alhamdulillah, setelah 10 tahun mengabdi, baru sekarang mungkin saya punya rumah,” ujarnya sambil menahan tangis.
Selain rumah guru, Afni juga menyoroti kebutuhan bus sekolah, listrik hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belum menjangkau seluruh wilayah 3T.
Menurut Afni, Pemkab Siak telah berulang kali menyampaikan persoalan tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
“Sudah lama kami sampaikan, bermohon-mohon di setiap kesempatan. Tapi entah kapan dapat jawaban,” ujarnya.
Afni mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara potensi kekayaan alam Siak dengan fasilitas dasar yang diterima masyarakat di pelosok.
Persoalan itu pula yang menurutnya berkaitan dengan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas. Afni mempertanyakan rencana pemangkasan DBH Migas Siak yang disebutnya akan kembali terjadi pada tahun depan.
“Bagaimana mungkin sebegitu teganya ada DBH Migas kami dipotong sampai 70 persen tahun depan?” kata Afni.
Bagi Afni, DBH Migas bukan sekadar angka dalam APBD. Anggaran tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan pemerintah daerah memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk menyediakan rumah guru, buku sekolah, transportasi anak-anak, listrik dan infrastruktur di wilayah pelosok.
Karena itu, mantan wartawan itu menegaskan perjuangan mempertahankan DBH merupakan bagian dari upaya memperbesar kemampuan daerah memenuhi kebutuhan masyarakat.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Afni mengaku masih banyak persoalan yang belum mampu diselesaikan pemerintah daerah.
“Banyak rasanya salah kami pada rakyat,” ucapnya.
Afni kemudian memohon kepada Allah SWT agar ikhtiar pemerintah daerah untuk masyarakat mendapat ridho.
“Semoga Allah SWT memaafkan dan meridhoi apa-apa yang kami perjuangkan,” katanya.
Kini, pembangunan rumah guru di Dusun Mungkal menjadi harapan baru bagi tiga guru yang selama bertahun-tahun berbagi satu rumah kayu bersama keluarganya.
Bagi mereka, rumah tersebut bukan sekadar bangunan baru. Setelah sekitar satu dekade mengabdi di pelosok Siak, mereka akhirnya memiliki harapan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak bagi keluarga dan menjadi tempat pulang setelah menjalankan tugas mendidik anak-anak negeri. (rls/rest)
Komentar Anda :