Perayaan Natal STM Orahua Mado Zega (OMEGA) Yang diadakan di gedung Gereja BNKP Pekanbaru Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru, pada Minggu (02" />
Minggu, 16 Desember 2018
 
Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita:
Perayaan Natal STM Marga Zega Pekanbaru Tahun 2018 "Sukses"
minggu, 02 Desember 2018 - 20:35:20 WIB
Photo Panitia Perayaan Natal STM Orahua Mado Zega (OMEGA) tahu 2018 di Gedung Gereja BNKP Pekanbaru" minggu (02/12/2018). Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita." Sub Thema: Semangat Natal dan Hikmat Tuhan Kita Yesus Kristus, Menjadikan kita semakin teguh
TERKAIT:
 
  • Perayaan Natal STM Marga Zega Pekanbaru Tahun 2018 "Sukses"
  •  

    SERGAPONLINE.COM PEKANBARU- Perayaan Natal STM Orahua Mado Zega (OMEGA) tahu 2018 "Sukses" diadakan di Gedung Gereja BNKP Pekanbaru Kecamatan Tenayan Raya pada Minggu (02/12/2018) pukul 15 wib. Thema diambil dari 1. Korintus 1:30,a. "Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita." Sub Thema: Semangat Natal dan Hikmat Tuhan Kita Yesus Kristus, Menjadikan kita semakin teguh dalam persatuan, persaudaraan dan dalam Iman.

    Renungan Natal dibawa oleh Pdt Suryani Halawa STh, dalam menyampaikan renungan firman mengatakan, renungan Natal hari ini bahwa "Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita." sesuai dengan Thema artinya Yesus Kristus adalah Hikmat bagi kita, dan kehadirannya adalah perjumpaan Yesus dalam hidup kita. Yesus adalah terang dunia. Artinya jika Dia berada dalam hidup kita kita tidak akan mengalami kehidupan yang gelap malah bisa menerangi orang lain yang masih hidup dalam kegelapan.

    Pdt Suryani menjelaskan terkait sejarah atau sisilah marga zega, menurut Suryani, marga Zega itu sesuai cerita atau dongeng:

    Dongeng Rakyat Nias
     
    Menurut Mitologi Nias, alam dan isinya ini diciptakan oleh Lowalangi. Ia menciptakan langit berlapis sembilan. Setelah selesai, ia menciptakan suatu pohon kehidupan yang disebut Toraa. Pohon suci ini berbuah dua buah. Setelah dierami seekor laba-laba emas, yang juga diciptakan Lowalangi, "menetaslah" sepasang dewa pertama di alam semesta ini. Masing-masing bernama Tuhamoraangi Tuhamoraanaa (laki-laki) dan Burutiraoangi Burutiraoanaa (perempuan). Keturunan sepasang dewa ini kemudian mendiami kesembilan lapis langit.
     
    Dalam menciptakan sesuatu ini, Lowalangi mempergunakan beberapa warna sebagai bahan. Warna-warna tersebut diaduknya dengan tongkat gaibnya yang disebut Sihai. Salah satu keturunan sepasang dewa itu bernama Sirao. Kemudian menjadi raja di lapisan langit pertama, yaitu lapisan paling dengan bumi. Langit ini disebut Teteholi Anaa. Nama lengkap Dewa Sirao adalah Uwu Zihono atau Sirao Uwu Zato. Sirao mempunyai tiga orang istri. Masing-masing berputra tiga orang anak.
     
    Nah, ketika Sirao sudah tua dan ingin mengundurkan diri dari pemerintahan, kesembilan Putra Sirao ini bertengkar, memperebutkan singgasana. Untuk memecahkan masalah yang gawat dan pelik ini. Sirao mengadakan sayembara ketangkasan menari di atas sembilan mata tombak yang dipancangkan di lapangan di muka istana. Sayembara ini dimenangkan oleh putra bungsunya, yang bernama Luo Mewona. Kebetulan sekali Luo Mewona adalah putra yang paling dikasihi oleh orang tuanya dan juga yang amat dihormati oleh rakyatnya. Ia memiliki sifat-sifat rendah hati, lagi pula, ia seorang yang bijaksana. Luo Mewona segera dikukuhkan menjadi Raja Teteholi Anaa menggantikan Sirao.
     
    Untuk menentramkan hati kedelapan putra lainnya, Sirao mengabulkan permohonan mereka untuk di-nidada-kan, yaitu diturunkan ke Tano Niha atau tanah manusia (Nias). Untuk mengawasi tingkah laku kakak-kakaknya itu, Raja Luo Mewona juga me-nidada-kan putra sulungnya, bernama Silogu di Hiambauna Onomondra, Ulu Moroo, yang terletak di Kecamatan Mandrehe sekarang, Nias bagian barat.
     
    Dari kedelapan putra Sirao, empat orang dapat diturunkan dengan selamat sehingga dapat menjadi leluhur mado atau marga orang Nias pada zaman sekarang. Mereka ini ialah;
    (1) Hiawalangi Sinada atau disebut dengan singkatan Hia, yang diturunkan di Boronadu, Kecamatan Gomo, Nias bagian tengah dan menjadi leluhur mado-mado Telaumbanua, Gulo, Mendrofa, Harefa dan lain-lain.
    (2) Gozo Helahela Dano atau disebut Gozo yang diturunkan di sebelah barat laut Hilimaziaya, Kecamatan Lahewa, Nias Utara dan menjadi leluhur mado baheha.
    (3) Daeli Bagambolangi atau Daeli, diturunkan di Tolamera Idanoi, Kecamatan Gunung Sitoli, Nias Timur, dan yang menjadi leluhur mado-mado Gea, Daeli, Larosa, dan lain-lain.
    (4) Hulu Booroodano atau Hulu, yang diturunkan di suatu tempat di Laehuwa, Kecamatan Alasa, Nias Barat laut, dan yang menjadi leluhur mado-mado Nduru, Buulooloo, Hulu, dan lain-lain.
     
    Silogu, putra sulung Luo Mewona yang diturunkan di Nias Barat menjadi leluhur mado-mado Zebua, Bawo, Zega dan lain-lain.
     
    Empat putra Sirao lainnya kurang beruntung, karena mengalami kecelakaan  sehingga tidak dapat mendarat di Nias. Mereka tidak dapat menjadi leluhur orang Nias. Mereka itu adalah Bauwadanoo Hia atau disebut juga Latura Dano. Ia terlalu berat badannya, sehingga waktu diturunkan terus menembus bumi, ia menjelma menjadi ular besar yang disebut Dao Zanaya Tanoo Sisagoro atau Dao Zanaya Tabo Sebolo, yang berarti adalah yang menjadi penadah bumi.
     
    Jika timbul perang dan darah manusia yang merembes ke bumi mengenai tubuhnya, ia akan marah. Ia akan menggoncang-goncangkan tubuhnya sehingga timbullah gempa bumi.
     
    Untuk menghentikan guncangan bumi itu, orang Nias akan berteriak-teriak, Biha Tua! Biha Tua," Artinya "Sudah Nenek, sudah Nenek!"
     
    Ucapan itu diteriakkan untuk menyatakan kepada ular itu bahwa mereka telah insaf dan tidak akan berperang lagi.
     
    Putra lainnya yang bernama Gozo Tuhazanga Rofa, ketika diturunkan rantainya putus sehingga ia tercebur ke dalam sungai. Sejak itu ia menjadi dewa sungai yang menjadi pujaan para nelayan, sebab ia penguasa ikan-ikan.
     
    Putra lainnya lagi yang bernama Lakindrolai Sitambalina, pada waktu ia diturunkan ke Bumi Nias ia tidak langsung jatuh, tetapi terbang terbawa angin dan tersangkut di pohon. Lalu, ia menjelma menjadi Bela Hugugeu, yaitu dewa hutan, yang menjadi pujaan para pemburu.
     
    Putra Sirao yang kurang beruntung adalah Situsoo Kara. Pada waktu ia diturunkan ayahnya ke bumi
    Nias, ia jatuh di daerah berbatu-batu, di daerah Laraga. Ia menjadi leluhur orang-orang gaib yang mempunyai kesaktian kebal.
     
    Kisah mengenai terjadinya mado-mado (marga) di Niha atau Pulau Nias ini dijadikan syair yang disebut hoho. Biasanya hoho dinyanyikan pada pesta-pesta adat, seperti pesta perkawinan dan pesta untuk kenaikan pangkat seorang tokoh dalam masyarakat.

    Pdt Suryani Halawa mengatakan, "Marga Zega ini sangat luarbiasa,apalagi nama organisasinya namanya OMEGA, artinya awal dan akhir (ALFA dan OMEGA)." dan kalau boleh saya berikan makna natal OMEGA ini Sesuai Themanya. Mado Zega sebua Geheha. Untuk kedepan kita berharap agar STM Maraga Zega ini dapat bertahan dan bersatu, karena semua mado zega adalah orang baik-baik...

    Ketua Panitia Natal STM ORAHUA MADO ZEGA (OMEGA) Pdp Hadiriku Zega, dalam menyampaikan kata sambutannya mengatakan, "perayaan Natal ini dapat dilaksanakan berkat kerjasama dan dukungan  dari semua panitia, kiranya di masa mendatang STM Orahua Mado Zega dapat berjalan lebih baik lagi."  "Selamat Natal 25 Desember 2018 dan tahun baru 01 January 2019."

    Ketua STM Orahua Mado Zega (OMEGA) A.Wiwin Zega Menyampaikan kata sambutan, puji syukur kepada Tuhan Kita Yesus Kristus yang telah memberikan kepada kita kesempatan dalam melaksanakan Natal OMEGA ini, sehingga dapat kita melaksanakan dengan baik, kita tau bukan karna kekuatan kita oleh karena kebaikan Tuhan kepada kita. Kami sangat apriesasi kepada Panitia yang telah berjerih payah untuk menyukseskan perayaan Natal OMEGA ini, biarlah Tuhan yang membalas kepada seluruh panitia.

    A.Wiwin Menghimbau, "Semua pengurus dan anggota OMEGA agar selalu menjaga kesatuan, yunity dan kebersamaan kita lagi kedepan, dan kepada saudara/saudari marga Zega agar dapat bergabung di organisasi kita ini, karena lewat STM orahua mado Zega ini kita bisa kenal satu dengan yang lain." diakhiri. "Selamat Natal 25 Desember 2018 dan tahun baru 01 January 2019." 

    Perayaan Natal diwarnai selain puji-puĀ­jian kepada Tuhan dan penyalaan lilin, liturgi, koor, vocal solo, dan jedah makan bersama, Door Prize, serta kata-kata sambutan dari penasehat OMEGA A. Putra Zega, dan kata sambutan yang mewakili Jemaat. Bubar.*** (Red)



     
    Berita Lainnya :
  • Perayaan Natal STM Marga Zega Pekanbaru Tahun 2018 "Sukses"
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
     
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2018 SergapOnline.com, all rights reserved